Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Bagi orangtua  muslim, sudah  selayaknya  menjadikan  Al-qur’an  dan As-Sunnah sebagai  landasan  perbuatan.  Termasuk  dalam  hal  mendidik anak.  Menanamkan aqidah adalah  pendidikan dasar pertama yang harus  ditanamkan orangtua  kepada sang anak.  Karena  aqidahlah yang kelak akan menjadi  landasan   kepribadian sang anak  sekaligus  menjadi  pandangan hidupnya.  Bahkan sejak bayi lahir  ke dunia, yang pertama dilakukan orangtua adalah mengazankan ditelinga kanannya dan meng-iqomahkan  ditelinga kirinya.  Inilah salah satu  bentuk  penanaman aqidah yang pertama  kepada sang anak.

Anak  adalah anugerah yang luar biasa. Sepertinya  seluruh orangtua sepakat  akan hal itu.  Adalah wajar  jika ada hal terbaru mengenai  perkembangan sang anak, serta merta  orangtua  merasa  gembira.  Ketika sang anak baru  bisa  merangkak, berjalan,  tertawa, tak lupa orangtua  megabadikan momennya. Pun dalam hal  berbicara,  orangtua  tak  jarang  mengajari  sang  anak , “Ayo nak, panggil  ummi … yang  ini abi… ummi,abi “.  Begitulah  umumnya.  Rasa  bahagia pun meluap-luap  ketika kata yang pertama kali keluar  dari  mulut  kecilnya  adalah ‘ Ummiiii’,  atau  ‘Abiiiiii’.  Wajar  bila orangtua  bahagia. Namun, bijakkah seperti itu?

Lanjut Baca »

Beberapa  hari  lalu  adik  saya  bercerita– ia  yang  baru  saja  menyelesaikan  jenjang  pendidikan  madrasah tsanawiyahnya–  tentang  acara  akhirus sanah (tutup tahun) , seremonial kelulusan  di sekolahnya.  Seperti  biasa,  lazimnya  berbagai  acara  seremonial di negeri ini, ada serangkaian  sambutan  yang berderet-deret.  Salah satunya  berasal  dari  pimpinan  lembaga  tersebut.  Ada  yang  lucu  dari  untaian  sambutannya.  Berikut saya  petik kelucuannya :

“Anak-anakku sekalian, Alhamdulillah  kalian bisa  menunjukkan  bahwa  meskipun  sekolah  di madrasah tsanawiyah, kalian  tidak  kalah dengan  murid-murid  sekolah  umum,” kata  bapak kita  ini  bersemangat.  Kemudian  beliau  melanjutkan  pernyataannya ,”dengan  mengikuti  Ujian  Akhir  Nasional, kalian bisa  membuktikan  bahwa  tsanawiyah  tidak  kalah  dengan  SMP.  Kalian  nanti  bisa  masuk  SMA  umum.  Tidak  hanya    sekolah  aliyah.  Meskipun  begitu,  bagi yang  bersekolah  di  aliyah, tidak perlu  berkecil  hati.  Sebab , sekarang  di aliyah  sudah cukup  bagus dan maju, jadi tidak kalah dengan SMA,” lanjutnya  sumringah. Lanjut Baca »

Sekali-sekali, marilah kita bernostalgia, mengingat kembali momen  beberapa bulan yang lalu atau beberapa tahun yang lalu,  saat  ada  seorang lelaki  meminta  kita  kepada wali. Ketika ada seorang lelaki yang sebelumnya  asing dalam hidup, kini mengikat  kita   menjadi pasangan sejati untuk menghabiskan  separuh perjuangan hakiki.   Ikatan  itu, pernikahan  namanya.  Sungguh ini bukan perjanjian biasa,  mitsaaqan ghaliza, itulah yang  mengikat kita. Perjanjian yang kuat. Yang  disaksikan oleh Allah dan para malaikat. Lanjut Baca »

Disebuah  kota kecil bersahaja,  jauh dari hiruk pikuk modernitas,  tinggal seorang ‘alim  ulama sepuh yang sangat  dikenal  namanya   hingga  ke seluruh penjuru  dunia. Seorang  pemilik  pondok  pesantren  yang  disegani.  Sikap  beliau  terhadap  perjuangan  syariat  Islam sudah tidak dapat  ditawar lagi.  Karena  perjuangan  di jalan inilah yang  kerap  menjadikan bilik  penjara  sebagai  makanan  beliau  sehari-hari.  Sebut  saja  beliau  Ustadz A. Lanjut Baca »

Pernahkah terlintas  dalam benak anda, sosok  seorang  istri, alumni  perguruan  tinggi  dan  terlihat mumpuni.  Namun  setiap kalender  menunjukkan  tanggal ‘tua’ , bukan main  resahnya  sang istri. Lembar-lembar  recehan  ditangannya  harus  dihemat  hingga  awal bulan depan.  Ia berpikir  keras, bagaimana  caranya  agar  dapur  bisa  tetap mengepul, namun  detergen  dan  sabun mandi yang  sudah habis  harus  terbeli.  Teori  ilmu  gizi  dan  ilmu  akuntansi  yang  ia  pelajari  sedari  dini  terpaksa  disingkirkan  dengan berat hati, karena  toh  kebutuhan  tadi  tak  terbeli.  Sungguh  menyita  pikiran  ketika  harus  bertahan  hidup  dari  hari ke hari , di sisi  lain juga harus  ridho  dengan  pemberian  suami. Lanjut Baca »

-Catatan Menuju Konferensi Rajab 1432 H (1) -

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…”(QS.Al-Anfal :24)

Dakwah  dan  Jihad  adalah dua  kata  yang selamanya  harus  terpatri dalam  diri  seorang muslim  yang  menghendaki  al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi)  di sisi Allah  SWT.  Setiap  mukmin  yang  memahami  dan  menghayati  hakikat  kehidupan  pasti  akan  menempuh  jalan kebahagiaan  abadi  di sisi Allah.  Ia  akan  mendekat, berlari, dan  terbang  menuju  keridhaan-Nya.  Dan setiap pengemban  dakwah  yang  di dalam relung  hatinya  terhujam  keyakinan  bahwa  kematian  itu  kepastian yang cuma  terjadi sekali, maka  ia  akan  memilih  seni  kematian yang  paling mulia  di sisi  Allah.

Lanjut Baca »

Generasi Unik

Ada  kesan  mendalam yang begitu  membekas  setelah  saya  menyelesaikan  bacaan kitab Ma’aalim fi Ath-Thoriq karya  Sayyid  Quthb. Dalam  kitab tersebut, beliau  menyimpulkan  tentang  generasi  pertama  Islam.  Generasi  para  sahabat  Rasulullah  menurut  beliau,adalah  generasi  Qurani  yang  unik  dan  menawan.

Lanjut Baca »

Masihkah kita  para  pengemban dakwah  merasa  ‘tabu’  membicarakan perihal menikah?  Padahal  bukan saatnya  lagi  membicarakan  pernikahan dalam suasana  merah jambu. Pun sudah bukan saatnya  lagi  membicarakan pernikahan hanya berkisar  kelambu nan mengharu biru.  Bukan. Bukan saatnya.  Karena pengemban dakwah  berbeda  dengan orang kebanyakan. Ketika orang lain  berbicara  pernikahan sebagai pelampias nafsu, maka pengemban dakwah  berbicara pernikahan  sebagai pintu  dari segala  sesuatu.

Lanjut Baca »

Like Father Like Son

” Aku  ingin  sekali  menyampaikan dakwah  ini  sampai  kepada janin  yang  ada  didalam perut  ibu  mereka “                                                   -Hasan Al Banna ra-

Sebuah  wawancara  sederhana  yang  terekam  oleh  sebuah  majalah Islam  menjadi  inspirasi  saya  menulis  hal  ini.  Berawal  dari  kisah seorang ibu, isteri  dari  ustadz Mutammimul Ula, sekaligus  bunda  dari  anak-anak  penghafal  qur’an.  Sepuluh  orang  anak  beliau, semuanya,  –Subhanallah—menjadi  hafidz  dan  hafidzah. Beliau  yang  biasa  di sapa  Ibu  Wirianingsih ini, kala  itu, melontarkan  sebuah  statemen, redaksional yang  menarik  tentang  bagaimana  struktur  pendidikan  rumah tangga  yang  dibangun, yang  ternyata  merupakan  hasil  seting  pendidikan  sang  suami, “ Yang  membentuk  mereka, termasuk  saya,  adalah  Bapak  mereka.  Saya  hanya  pelaksananya  saja.  Ibarat  membuat  sebuah  bangunan,  suami  sayalah  yang merancang dan membuat  kerangkanya, lalu  saya  yang  mengisinya.

Lanjut Baca »

Islam mendorong umatnya  untuk bersikap zuhud  terhadap dunia. Namun Filosofi “zuhud” dalam Islam itu tidak berarti memisahkan seseorang  dari upaya,pekerjaan, produktivitas dan aktivitasnya untuk memakmurkan dunia, sebagaimana  yang di salahpahami  oleh  sebagian  orang. Tujuan zuhud tidak lain  untuk  memelihara  jiwa  agar  tidak  terjerumus ke dalam penghambaan  terhadap kehidupan dunia. Sebab, Islam dengan jelas menyerukan  agar  berusaha  dan bekerja. Menjauhkan diri  dari  kefakiran. Rasulullah  pernah ditanya  tentang hakikat zuhud. Lalu  beliau menjawab, “Zuhud bukanlah mengharamkan yang halal  dan melenyapkan harta-kekayaan. Yang dinamakan zuhud terhadap dunia adalah engkau merasa lebih kaya dengan apa yang ada pada sisi Allah daripada dengan apa yang ada ditanganmu.” Imam Ahmad bin Hambal pun pernah ditanya,” Dapatkah seseorang dikatakan zuhud sementaranya ditangannya  terdapat  seribu dinar?” Beliau menjawab, “tentu saja”,. Kemudian ditanyakan lagi,” Apa  sajakah tanda-tandanya?” Kemudian beliau menjawab,”Tandanya  adalah kalau  dinarnya  bertambah  dia  tidak bergembira, dan kalau  berkurang dia tidak sedih.”

Lanjut Baca »

Fakta menunjukkan bahwa umat Islam hingga kini masih dipimpin atas dasar sistem sekuler yang sengaja di paksakan oleh kafir penjajah supaya penjajahan dan sistem yang mereka anut tetap langgeng. Maka bukan hal yang aneh jika umat Islam pun notabene masih digerogoti oleh sistem ekonomi kapitalis dalam semua sektor kehidupan perekonomiannya. Banyak umat islam yang dengan bangga memperkenalkan konsep ekonomi kapitalistik, ini terlihat di negeri yang dihuni oleh muslim terbesar ini, konsumsi buku-buku tentang investasi harta kekayaan dengan berbagai metode dan konsepnya menjadi best seller. Training-training dan seminar tentang menggandakan kekayaan laris manis, bahkan yang dibungkus dengan label ‘islam’ sekalipun, entah dengan hitungan matematika sedekah yang dapat menggandakan kekayaan anda, investasi emas, dan lain-lain.

Lanjut Baca »

Kita semua tahu kehidupan dakwah dan aktivitas Islam itu sangat berat, sulit, penuh cobaan, tantangan, dan sarat  dengan godaan-godaan  yang  menyesatkan. Karena  ketika seseorang  memilih  hidup untuk  berdakwah, berarti  ia harus siap menghadapi  jalan kebenaran  yang  sarat  dengan onak dan duri.  Betapa  tidak, kemungkaran  bersliweran  setiap  waktu  disana-sini  dan  mengakar, hingga  tidak  lagi  dianggap  sebagai  kemungkaran. Antara  yang  haq dan yang bathil dipertukarkan. Kalaupun  seorang  pengemban dakwah ingin merubahnya,ia  ibarat berhadapan dengan tembok super kokoh. Dunia (materi)  tidak  ketinggalan tampil memikat dihadapan  para pengemban dakwah, dengan dandanan amat memikat, guna  menjajakkan kenikmatan semunya. Tingginya  derajat seorang pengemban dakwah  diruntuhkan  dengan konspirasi-konspirasi  negatif  yang  dibangun  musuh-musuh Islam, sehingga  pengemban  dakwah  di mata  masyarakat  kebanyakan kini, laiknya  monster  berbaju  teroris.  Bagaimana  tidak,  wong setiap hari  mereka  disuguhkan berita negatif  tentang pencitraan  buruk  pengemban dakwah.  Menyaksikan dan mendengar  bahwa  algojo  jahiliyah  mengarahkan  moncong  senapan  ke dada  pengemban  dakwah,  menembak  langsung  mereka  yang  melawan  sembari memekikkan  takbir.

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.